Pembelajaran Holistik, Tantangan dan Era Baru Guru Indonesia Masa Depan

  • 06-04-2020 / 11:23 WIB
  • Kategori:Sekolah, Nasional
Pembelajaran Holistik, Tantangan dan Era Baru Guru Indonesia Masa Depan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim

Malangpostonline.com - Guru masa depan akan dihadapkan tantangan dan era baru dalam pembelajarannya. Tak sekadar membentuk kompetensi kognitif, guru dituntut mampu melakukan pembelajaran lebih holistik.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim telah merumuskan Lima Strategi Pembelajaran Holistik yang bakal diterapkan nantinya. Apa saja dan bagaimana itu?

"Sesuai arahan Presiden, pengembangan sumberdaya manusia Indonesia (SDM) unggul harus bersifat holistik. Tidak hanya literasi dan numerasi, tetapi juga pendidikan karakter memiliki tingkat kepentingan yang sama,” kata Mendikbud Nadiem Makarim, usai mengikuti Rapat Kabinet Terbatas melalui konferensi video di Jakarta, Jumat (3/4/2020).

Organisasi dunia untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mencatat, peringkat nilai Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia berdasarkan hasil survei tahun 2018. Yakni, Membaca (peringkat 72 dari 77 negara), Matematika (Peringkat 72), dan Sains (peringkat 70 dari 78 negara). Nilai PISA Indonesia ini juga cenderung stagnan dalam kurun waktu 10 sampai 15 tahun terakhir.

Mendikbud NM lalu menjelaskan, lima strategi untuk meningkatkan nilai PISA Indonesia. Yakni, transformasi kepemimpinan sekolah, pendidikan dan pelatihan guru, pembelajaran sesuai tingkat kemampuan siswa, standar penilaian global, dan kemitraan daerah dan masyarakat sipil.

Kedepan, kata Nadiem Makarim, Kemendikbud akan mendorong munculnya kurang lebih 10.000 sekolah penggerak, yang akan menjadi pusat pelatihan guru dan katalis bagi transformasi sekolah-sekolah lain.

"Survei Karakter dan Survei Lingkungan Belajar juga akan digunakan untuk mengukur aspek-aspek nonkognitif siswa, untuk mendapatkan gambaran mutu pendidikan secara holistik," tegas Mendikbud.

Konsep strategis Mendikbud ini, berkonsekuensi bakal memunculkan generasi baru pelaku pendidikan, yang bisa jadi sangat berbeda dengan yang ada kini. Pendidikan era mendatang, bakal banyak diisi kepala sekolah dari guru-guru terbaik, yang diharapkan mampu melahirkan pelajar hebat.

Skenario Pendidikan Profesi Guru (PPG) sudah lama dicanangkan pemerintah, yang sedianya sekaligus menggantikan program Sertifikasi Guru. Kompetensi guru sudah didongkrak melalui Uji Kompetensi Guru (UKG), dilanjutkan program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP) agar lebih meningkatkan kemampuan yang dimiliki. Tetapi, skenario ini belum sepenuhnya menjangkau semua guru dan hasilnya masih kurang memuaskan.

Data Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud menyebutkan, rerata hasil tes PKP Zonasi guru jenjang SMP dan SMA/SMK tidak mencapai 6,0. Masing-masing 52,17 (SMP), 52,37 (SMA), dan 53,73 (SMK). Bahkan, untuk guru jenjang TK dan SD, rerata yang didapatkan lebih rendah, yakni 49,48 (TK) dan 49,28. 

Pada jenjang SMP, kompetensi paling rendah reratanya pada mapel Bahasa Inggris, dengan rerata 49,87 dari 16 ribu lebih guru, juga Matematika, dengan rerata 48,3 dari 21,9 ribu guru, dan Informatika. Sementara, didapati guru SMA juga masih rendah kompetensinya pada Matematika (40,05 dari 4 ribu lebih guru), dan Informatika (rerata 37,42).

Hasil tes PKP ini menunjukkan, secara umum kompetensi guru masih perlu lebih ditingkatkan. Terlebih, kompetensi numerik dan penguasaan informatika.

Nah, di sini pekerjaan pemerintah untuk meningkatkan mutu dan proses pendidikan yang dimulai dari guru, cukup berat. Pemerintah harus memaksa guru yang sudah ada keluar dari zona nyaman, membiasakan kinerja tidak konvensional. Dan ini tidak mudah, memakan waktu lama, juga butuh daya dukung biaya tak sedikit.

Ya, program peningkatan kompetensi guru yang akan disiapkan Mendikbud nantinya berbeda, untuk bisa menghasilkan generasi guru era baru. Ratusan Organisasi Penggerak juga akan disiapkan untuk mendampingi guru-guru dan penggunaan platform teknologi pendidikan berbasis mobile dan bermitra dengan perusahaan teknologi pendidikan kelas dunia.

Bisa dibayangkan nantinya, guru dengan penguasaan informatika dan media mobile dan digital pas-pasan, akan lebih disibukkan untuk bisa menyesuaikan diri.

Sementara, ke depan guru juga tetap diberi keleluasaan mengajar sesuai tingkat kemampuan siswa. Strategi ini dilakukan dengan menyederhanakan kurikulum, sehingga lebih fleksibel dan berorientasi pada kompetensi.

Hal ini sebenarnya sudah dimulai tahun ajaran lalu dengan program zonasi pendidikan, dimana guru dihadapkan pada siswa yang lebih beragam kemampuan akademiknya. Guru harus pandai-pandai membangkitkan motivasi belajar dan kompetensi siswa dalam pengelolaan kelas yang lebih rumit. [amn/malangpostonline.com]

 

 

PENTING! Baca Ini:

https://m.malangpostonline.com/bisnis/lowongan-kerja

https://m.malangpostonline.com/bisnis/iklan-baris

https://m.malangpostonline.com/bisnis/iklan-properti

  • Editor : amn
  • Uploader : rois
  • Penulis : amn
  • Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU