Pelajar Pembunuh Begal Didakwa Pasal Berlapis, Tim Pengacara Siap Ajukan Eksepsi

  • 14-01-2020 / 16:54 WIB
  • Kategori:Hukum Kriminal
Pelajar Pembunuh Begal Didakwa Pasal Berlapis, Tim Pengacara Siap Ajukan Eksepsi Tim pengacara ZA, pelajar yang membunuh begal ketika hendak sidang perdana di PN Kepanjen.

Malangpostonline.com - Kasus pembunuhan begal yang dilakukan ZA, pelajar asal Kecamatan Gondanglegi, mulai masuk meja hijau. Selasa (14/1) siang, ZA menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Kepanjen. Agendanya adalah pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Jalannya sidang berlangsung tertutup di ruang sidang tirta atau anak. Selama sidang, ZA didampingi lima orang kuasa hukumnya. ZA juga terlihat masih mengenakan seragam abu-abu putih.

Sidang berlangsung cukup lama, hampir sekitar dua jam. Dalam dakwaan yang dibacakan JPU, Kristriawan, terdakwa ZA dijerat dengan pasal berlapis. Ada empat pasal yang disangkakan kepadanya.

Yaitu, pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman kurungan penjara seumur hidup. Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan kematian dengan ancaman maksimal 7 tahun. Pasal  338 KUHP tentang pembunuhan dengan ancaman maksimal 15 tahun kurungan penjara. Dan pasal 2 ayat 1 Undang-undang darurat nomor 12 tahun 1951, tentang kedapatan membawa senjata tajam.

Sekadar diketahui, Polres Malang mengamankan ZA, Selasa 10 September 2019. Pelajar SMA ini ditangkap di rumahnya. Penangkapannya setelah ZA terbukti menusuk Misnan alias Grandong, 35, warga Dusun Penjalinan Desa Gondanglegi Kulon Kecamatan Gondanglegi.

Penusukan dilakukan karena terdesak. ZA melakukan pembelaan diri. Ia menjadi korban begal Misnan serta tiga orang pelaku lainnya.

ZA melawan dengan menusuk Misnan karena barang berharga miliknya seperti HP dan motor hendak dirampas. Termasuk kekasihnya akan disetubuhi oleh Misnan alias Grandong. Setelah proses penyidikan lama, akhirnya baru awal Januari 2020 berkasnya dinyatakan lengkap atau P21, yang kemudian dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Kepanjen.

Terkait dengan dakwaan tersebut, Bakti Riza Hidayat, SH, selaku koordinator pengacara ZA, mengatakan bahwa tim pengacara akan mengajukan eksepsi atau keberatan. Karena apa yang didakwakan kepada ZA, tidak sesuai dan sangat memberatkan.

"Menurut kami, ZA melakukan pembelaan diri. Dia tidak melakukan pembunuhan, apalagi sampai merencanakan. Terkait pisau yang digunakan menusuk itu, adalah digunakan untuk kegiatan ketrampilan ZA di sekolah. Bahkan ada keterangan resmi dari gurunya," terang Bakti Riza Hidayat.

Bakti juga mengkritis, bahwa apa yang disampaikan JPU dalam persidangan terkesan terpotong. Tidak disampaikan sebab akibat proses terjadinya pembunuhan terhadap pelaku begal. Karena fakta yang sebenarnya, bahwa ZA melakukan pembelaan diri.

"Dalam pasal 49 dan 50 KUHP ada alasan pembenar dan pemaaf. Dimana pelaku tindak pidana tidak bisa dipidana, karena alasan pembelaan diri. ZA juga demikian, dia melakukan pembelaan diri saat melawan pelaku begal, lantaran menjaga harkat dan martabat. Apalagi kekasihnya juga mau disetubuhi oleh pelaku begal itu," urainya.

Pengacara berambut gondrong ini, berharap Majelis Hakim bisa mengabulkan eksepsi yang diajukan pada sidang lanjutan. Apalagi, Hakim juga menyampaikan kalau pertengahan Februari nanti, proses sidang harus sudah selesai.

Tidak hanya itu, tim pengacara juga bakal menghadirkan beberapa saksi. Diantaranya, saksi ahli dari Universitas Brawijaya dan beberapa warga disekitar lokasi kejadian. ”Siapa saja saksinya, masih akan kami koordinasikan lagi,” paparnya.

Sementara, ZA, berharap proses sidang pembunuhan ini, bisa segera selesai. Dia juga mengatakan kalau dirinya, hanya melakukan pembelaan diri. "Saat itu saya hanya membela diri," katanya.(agp)

  • Editor : agp
  • Uploader : slatem
  • Penulis : agp
  • Fotografer : agp

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU