Piala Gubernur Nekat

  • 19-02-2020 / 17:06 WIB
  • Kategori:Catatan
Piala Gubernur Nekat

Saya kira laga semifinal di Blitar ditunda. Melihat situasi dan kondisi, beberapa jam sebelum kick off Persebaya vs Arema FC, Selasa (18/2).

Ternyata lanjut. Ring 1 di sekitar Stadion Soeprijadi memang aman. Steril tanpa penonton.

Laga mulai 15.30 WIB. Selesai dengan skor 4-2 untuk kemenangan Persebaya. Bajul Ijo ke babak final bertemu Persija, Kamis (20/2).

Tak ada yang istimewa dengan laga tersebut. Kecuali kartu merah yang didapat Jonathan Bauman, menit 17.

Untuk ukuran pemain asing, menurut saya itu adalah tindakan bodoh. Maaf. Apapun alasannya.

Posisi Arema sudah unggul dulu, pelanggarannya pun tidak penting atau bukan untuk sebuah penyelamatan. Dilakukan pemain asing yang harusnya beri contoh baik.

Apalagi namanya kalau bukan tindakan ceroboh. Dan saya sudah memprediksi, menit ke menit berikutnya, perjuangan Arema makin berat untuk bisa menang. Terbukti.

Satu lagi tentang komposisi lini tengah. Awalnya saya berpikir Jayus bakal tampil sejak kick off babak pertama. Ternyata pilihan Arema menurunkannya di menit akhir.

Tidak tahu persis alasannya, yang jelas harapan Jayus bisa 'mematikan' Makan Konate tak bisa terwujud. Entahlah, tim pelatih Arema pasti punya pertimbangan dengan segala risikonya. Termasuk risiko gagal lolos ke semifinal.

Jujur, menurut saya kekalahan Arema sebenarnya sudah terjadi sebelum tanding.

Ya, kekalahan Alfarizi dkk 4-2 di atas lapangan itu hanya sebagai lanjutannya saja.

Jadi, saat laga semifinal mendadak dipindah ke Kota Blitar, itulah awal kekalahan Arema. Dalam hal ini, manajemen Arema yang kalah.

Bagaimana bisa, PSSI Jatim sebagai penyelenggara yang telah menjadwalkan semifinal di Stadion Kanjuruhan, tiba-tiba diubah.

Pakai alasan keamanan, dan mungkin pakai alasan tuntutan dari suporter Persebaya ingin di tempat netral.

Padahal sebelumnya Persebaya sebagai juara grup punya opsi sebagai tuan rumah di Stadion Gelora Bung Tomo, namun sudah memastikan tidak siap.

Lalu dipilihlah Stadion Kanjuruhan menggelar semifinal, sebelum akhirnya ada pertemuan di Polda Jatim, Minggu (16/2).

Bisa jadi, pihak Persebaya kuat dalam melakukan loby untuk pindah venue. Apalagi sempat beredar informasi, Persebaya mengancam mundur jika digelar di Kanjuruhan.

Saya tidak tahu persis, siapa yang mewakili Arema pada pertemuan di Polda itu. Pertemuan yang sangat menentukan.

Menurut hemat saya, Arema akhirnya menjadi tak punya opsi. Kalah dalam bergaining position.

Kenapa tidak ngotot main di Kanjuruhan? Bisa juga tanpa penonton. Meski yang terjadi di Blitar itu, tetap saja ada Aremania dan Bonekmania yang datang.

Coba di Kanjuruhan, insha Allah tidak akan sampai terjadi kericuhan suporter seperti di Blitar. Apalagi jika tanpa penonton. Meski ini bukan tempat netral, saya yakin, tak ada garansi Arema yang lolos ke semifinal.

Atau kenapa Arema tidak ngotot main di Gelora Bung Tomo? Sekalian saja. Kalau tidak dipenuhi, ya mundur. Untuk menunjukkan panitia penyelenggara memang tidak siap, menggelar event ini.

Pindah ke Blitar bukan solusi. Alasan keamanan juga tidak pas. Kericuhan pecah di sana. Kasihan warga setempat.

Mengatasnamakan Gubernur Jatim, malah bikin warga Jatim terancam. Padahal mereka tidak ikut 'perang'. Mereka ketiban sampur.

Blitar membara. Justru terjadi bukan di stadion, tempat Persebaya dan Arema bertanding. Aremania dan Bonek bentrok.

Padahal sebelum Piala Gubernur Jatim bergulir, gembar-gembornya bakal jadi ajang perdamaian suporter Jatim. Jauh api dari panggang.

Prihatin. Hingga kini belum ada formulasi yang pas untuk dua suporter itu bisa berdamai. Nama Piala Gubernur pun tercoreng.

Pikir saya, mau habiskan berapa Kapolda lagi? Hingga masalah suporter Jatim ini tuntas.

Mungkin ada benarnya, jangankan Kapolda, Kapolri turun tangan pun, rivalitas pendukung tim sepakboka ini belum tentu ada solusi.

Kini, Piala Gubernur Jatim 2020 menyisakan satu laga lagi. Rencana digelar di Stadion Gelora Delta Sidoarjo. Meski belum 100 persen fiks. Karena mendadak bisa berubah.

Meski tak seheboh pertemuan Persebaya dengan Arema, rasanya laga final, Persebaya lawan Persija juga rawan.

Apalagi jika tak ada instruksi tanpa penonton. Gesekan Bonek dengan Jakmania bisa mengancam warga setempat.

Belum lagi, jika Aremania ternyata ikut hadir di Sidoarjo, untuk beri dukungan pada Persija. Bentuk solidaritas dengan Jakmania. Tambah runyam.

Sebenarnya kalau Piala Gubernur ini sebagai ajang untuk mengukur kesiapan tim jelang Liga 1, sebenarnya sudah bisa terukur. Terlepas siapa pun juaranya.

Ya semoga saja Persebaya yang menang dan keluar sebagai juara. Agar petugas keamanan tidak terlalu dibikin pusing.

Maklum, susah juga menghadapi orang nekat. Dalam gelaran Piala Gubernur yang terbilang nekat juga.

Presiden aja gak berani gelar Piala Presiden 2020. Ini ada Gubernur Jatim nekat gelar turnamen pra musim. Akhirnya, bukan timnya saja yang pemanasan, suporter pun sudah panas sebelum kompetisi dimulai. (*)

 

 

PENTING! Baca Ini:

https://m.malangpostonline.com/bisnis/lowongan-kerja

https://m.malangpostonline.com/bisnis/iklan-baris

https://m.malangpostonline.com/bisnis/iklan-properti

  • Editor : bua
  • Uploader : rois
  • Penulis : Buari
  • Fotografer : Firman

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU