Mimpi Garuda

  • 20-11-2019 / 10:24 WIB
  • Kategori:Catatan
Mimpi Garuda

Sebelum laga, saya sudah pesimis.
Tapi bukan saya tak punya jiwa nasionalis.

Ini beda urusan. Saya Indonesia. Tetap dukung Timnas Garuda.

Saya mungkin satu dari sekian penikmat bola yang berusaha realistis. 

Ya, biar jatuhnya gak terlalu kecewa. Dan benar. Skor akhir 2-0 untuk kemenangan Malaysia atas Indonesia di ajang pra Piala Dunia. 

Hasil yang sebenarnya sudah diprediksi sebelumnya. Iya kan...?

Bermain di kandang sendiri saja, Indonesia kalah dari Malaysia. Ingat ya...

Kekalahan ini melengkapi empat kekalahan sebelumnya. Sekaligus makin membenamkan Indonesia di posisi juru kunci grup G kualifikasi Piala Dunia 2022.

Awalnya saya sempat menaruh harapan pada laga lawan Malaysia ini. Khususnya dengan telah dipecatnya pelatih Simon McMenemy. Termasuk dengan terpilihnya Ketua Umum PSSI yang baru.

Permainan sempat berkembang, Indonesia bisa memberi perlawanan. Saya pikir pelatih Yeyen Tumena bersama Joko Susilo bisa jadi pengganti Simon. 

Sayang, dua kesalahan lini belakang, harua dibayar mahal. Dua gol Malaysia tercipta dari kesalahan pemain belakang. 
Kebetulan dilakukan pemain yang sama. 

Yanto Basna, jadi 'man of the match' bagi Indonesia. Padahal berstatus sebagai kapten tim, jadi pemicu dua gol Malaysia. 

Masih ada tiga laga lagi. Hanya sebuah keajaiban yang bisa meloloskan Indonesia. 

Lebih dari itu, terpenting adalah bisa menunjukkan permainan yang berkualitas. Ya tentunya bisa menang. 

Meski akhirnya tak lolos, kita akan bangga dengan Timnas Indonesia yang bisa menunjukkan permainan sekelas tim Piala Dunia. Kalau bisa...

Bagaimana caranya?

Saya tidak akan bisa menjawab pertanyaan sulit itu dalam waktu sekitar tiga bulan sebelum Indonesia kembali berlaga.

Rasanya hanya pelatih yang berkelas, bisa menjawab itu. Ya, mungkin coach Luis Mila. Bisa juga pelatih lokal seperti Fachri Husaini atau Indra Sjafri. Mungkin bisa...

Selain pilih juru ramu yang tepat, pilihan pemain juga sangat menentukan. Mulai kiper, lini belakang, tengah dan depan.

Saya sempat berpikir dan bertanya saat Yanto Basna dipercaya sebagai kapten timnas, terlepas tim pelatih punya pertimbangan tersendiri, bisakah pemain ini? Tidak adakah pemain lain sebagai kapten?

Bukan karena hasil kekalahan itu memunculkan pertanyaan tersebut, tapi dari sebelumnya saya sudah lihat permainan 'blunder' Yanto Basna. 

Mungkin karena memang tak ada pilihan lain ya. Dan mungkin itulah gambaran skuad Timnas Indonesia. Tidak ada pilihan pemain berkualitas. Benarkah demikian?

Sebenarnya sudah ditopang sederet pemain naturalisasi, tapi belum cukup. Kenapa tidak cukup mumpuni, karena pemain asing yang kini membela Indonesia itu levelnya mengikuti kualitas kompetisi Indonesia. Ya, jadinya hampir tak jauh beda dengan pemain lokal Indonesia. 

Menurut saya, untuk menciptakan timnas yang berkualitas, Indonesia harus punya banyak pemain yang gabung klub di luar negeri, khususnya ikut kompetisi di Eropa. 

Kira-kira seperti Egy Maulana Vikri yang bermain di Liga Eropa bersama tim Lechia Gdansk. 

Membayangkan ada 11 hingga 20 pemain Indonesia yang bermain untuk klub di Eropa sana. Atau setidaknya bermain untuk klub Asia, misal di Jepang atau di Korsel. Timnas Indonesia bakal super.

Bukan satu tim dari Indonesia yang diikutkan liga di luar negeri ya. Tapi individu-individu pemain yang dipercaya banyak klub luar negeri.

Misal di semua lini, masing-masing ada satu atau dua pemain Indonesia yang bermain di Liga Eropa. Pada saatnya, mereka bisa dipanggil semua, jadi satu Timnas yang berkualitas.

Saya yakin, pastilah secara individu, pemain tersebut berkualitas. Karena tidak mungkin, klub luar negeri ambil pemain Indonesia yang biasa-biasa saja. 

Kalau Egy dibuat standart, kurang lebih seperti dia. Dan Indonesia harus bisa kirim Egy-Egy yang lain ke Eropa untuk bermain di posisi kiper, bek, gelandang hingga stiker. Bisa???

Mimpi. Mungkin itu jawabnya. Ya memang itu sebuah mimpi. Seperti mimpi timnas Garuda untuk tampil di Piala Dunia.

Mimpi lawan Timnas Brasil, Italia, Prancis, Inggris, Portugal dan tim besar lainnya. Namun belum sampai mimpi lawan tim sekelas Uni Emirat Arab, Iran, Korsel atau Jepang, Timnas Indonesia keburu dibangunkan Malaysia. 

Ya...Semoga cukup mimpinya. Kini berharap Indonesia melalui kompetisi yang berkualitas, bisa lahirkan pemain berkelas untuk dilirik klub-klub Eropa. Meski kompetisi berkualitas juga adalah mimpi. (*)

  • Editor : bua
  • Uploader : irawan
  • Penulis : Buari
  • Fotografer : ley

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU